TETANGGAKU SURGA
Cerpen : M.A. Khafidz
Matahari sudah mencapai seperempat lebih dari setengah lingkaran langit pagi, di belahan langit sebelah tenggara awan putih bergumpal-gumpal bercumbu mesra dengan langit biru, dan aku merasa seolah angin tak berhembus, hanya terkadang rambutku yang panjang terurai tergoyang lembut olehnya.
Kupandangi terus gedung berpagar yang cukup tinggi yang agak jauh dari rumah. Tepatnya di sebelah utara rumahku, dengan berbatas lintasan jalan yang tak terlalu ramai dengan arus perjalanan, pagarnya yang sudah begitu tua terukir huruf-huruf arab, entah apa bacanya, gedung itu hanya berpintu gerbang satu yang terbuat dari kayu serta mulai menghitam dan merapuh, itu membuat penghuninya jarang bertemu dengan dunia luar. Tapi sesekali kulihat keluar lewat gerbang itu, sosok perempuan yang memakai pakaian khas, Rok panjang, Baju seperti jubah dengan lengannya yang panjang, serta kepala terbungkus selembar kain kecuali hanya wajahnya yang terlihat.
Semakin kudalami lamunanku dan kuliarkan fikiranku, sekilas terbayang wajah Dika dalam benakku, memang, sudah seminggu terakhir ini aku tidak bersua dengannya, ketika liburan semester gasal dimuali. Meski, setiap bertemu aku hanya diam seribu bahasa, rasanya tak kuasa mulut untuk berucap padanya, tapi sesosok Dika begitu misteri, tinggal dimanakah ia sebenarnya? Tak satupun temannya yang tahu.
“ Iffa !” dari belakang Ririn dan Risa mengagetkanku, mereka adalah saudara sepupuku yang sudah terbiasa di rumahku.
“ kalian tak bisa puas apa! Kalau belum membuat jantung orang copot!” jawabku sambil ku putar tubuhku kearah mereka.
“ Sorry…bercanda kok..” Rinrin menjawab dengan nada lirih. “ Ada apa sih pagi-pagii udah melamun ? “ tambah Risa.
“ lagian yang ngelamun siapa? Orang lagi cari udara segar !” aku semakin kesal di buat olehnya, “ Ada apa? Tumben liburan mau ke sini.” Terusku.
“ Nggak ada apa-apa, cuma mau nawarin kamu, kamu mau nggak ikut belajar kelompok” jawab Ririn. “ Soalnya kemarin kamu sudah aku daftarkan di kelompok kita”, Ririn semakin meyakinkan. “ iya, dan rencananya di mulai sekarang di rumah Dimas” Risa juga andil bicara.
“ Ok! Sekarang?” aku pura-pura tak tahu menahu.
“ Enggak! Tahun belakang !” jawab Risa ketus. “ ya pastilah sekarang masak tahun depan kita sudah lulus tau!” Ririn menimpali dengan nada yang tak kalah ketusnya. Meski begitu di wajah mereka terdapat secarik tawa yang ditahan.
“ gitu saja ngambek, biasa tau, ha…ha…ha…” ledekku pada mereka dan tertawa bersama. “ aku mau ganti busana dulu ya, sekalian mau izin sama nyokab” kutinggalkan mereka di teras depan lantai dua itu. Tak lebih setengah jam aku dan teman-teman sudah berkumpul di rumah Dimas, butir-butir soal dari yang mudah sampai yang sulit telah selesai dengan baik.
“ Fa, ngomong-ngomong kabarnya hubungnmu dengan Dika gimana?” pertanyaan itu mengagetkanku, mendengar nama itu hatiku bergetar lembut.
“ Biasa” jawabku singkat, “ kira-kira ada yang tahu rumahnya nggak?” tambahku.
“ Enggak tau ”jawab mereka serempak sambil menggeleng. Jawaban singkat itu membuatku semakin rindu sama Dika.
Tak terasa waktu terus berjalan, terdengar lembut teriakan lewat speker masjid, entah apa namanya, karena sejak kecil aku terlahir tanpa mengenal tuhan, keluargaku yang membuatku begitu, jadi aku tak tahu hal-hal yang seperti itu, terkadang aku ingin ikut seperti tetanggaku yang selalu pakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh, tapi terkadang aku ingin seperti sepupuku, yang katanya beragama Kristen. Setiap ada fikiran itu, hatiku selalu bingung dan segera kuusir.
# # #
Seminggu waktu yang tak begitu lama untuk liburan, kini sekolah telah masuk, belajar mengajar di sekolah mulai berjalan seperti biasanya, tapi hanya aku satu-satunya anak di kelas itu yang kurang bersemangat, entah karena waktu liburan yang kurang lama atau mungkin karena kudapati waktu itu Dika tidak masuk yang dengan alasan ada urusan keluarga. Aku sendiri bingung.
Hari-hari kulalui penuh dengan kerinduan, meski aku dan Dika berbeda agama, bahkan aku sendiri tidak beragama, itu tak menyurutkan sayangku padanya, tapi aku juga tak berani mengungkapkannya. Lagi-lagi kalau aku memirkan Dika pasti rasa kemauanku untuk bertuhan juga datang menghantuiku, kuusir, datang lagi dan ku usir lagi dan datang lagi, dan seterusnya…
Hari itu Dika belum juga masuk padahal itu sudah hari keempat dari izinnya , bangku tempat duduknya masih kosong, seakan ia rindu dengan penghuninya, aku mulai curiga dan semakin curiga pasti ada apa-apa dengan dia atau keluarganya, semua teman-temanya ku tanyai tentang alamatnya tak ada yang tahu, aku semakin pusing, “ Pegawai TU” bisikku dalam hati, “ mungkin dia tahu” bisikku lagi, ku temukan alamatnya di kantor TU, kutulis alamatnya di tangan kiriku dengan pena yang telah aku bawa kesana-kemari.
Aku baru tahu dari tetangganya, ternyata sudah tiga hari yang lalu Dika menunggui ayahnya yang berbaring di ranjang berselimut putih polos, dengan suasana ruangan yang penuh dengan bau obat, dengan adanya keterbatasan biaya pengobatan ayah Dika tersendat, karena itu sakitnya semakin parah dan kritis, terkadang dalam hatinya ada perasaan semacam khawatir dan rasa pedih dan sesekali keluar air bening dari kelopak matanya yang mulai mencekung karena tiap malam harus terjaga, setetes demi setetes air bening itu mulai membasahi pipinya, kemudian ia membayangkan apa yang akan terjadi setelah itu, namun sebentar bayangan itu datang dan secepat itu pula ia mengusirnya, datang lagi dia usir lagi, datang lagi dan dia usir lagi datang lagi dan berulang-ulang………..
Sore itu jam besuk yang ditunggu-tunggu para pasien sudah tiba, pasien-pasien yang lain sibuk melayani tamu-tamunya, sedikit kegembiraan tersurat di wajah mereka yang lesu itu, hanya bagi Dika, ia tidak berharap kepada orang-orang untuk menjenguk ayahnya, kecuali adiknya dan ibunya yang membawa makanan dan pakaian untuknya, orang miskin semacam mereka memang jarang di perhatikan orang, karena itu Dika sangat kaget ketika tiba-tiba aku berdiri di sampingnya.
“ Iffa kau, dari mana kau tahu aku disini?” wajahnya sedikit tergaris keceriaan yang berbaur dengan kepiluan dan malu, wajahnya sedikit di rundukkan.
“ Dari sini ” jawabku, jari telunjukku menunjuk ke mulutku. Suaraku pelan setengah berbisik.
“ Aku menghawatirkanmu, beberapa hari ini kamu tidak masuk sekolah, aku kesulitan cari alamat rumahmu, semua teman-teman kamu tak ada yang tahu. Tapi ketemu juga kan?” suaraku masih pelan dan ketua goreskan senyum simpul kepadanya, “ kamu di sini dengan siapa?” tanyaku.
“ Sendirian, tapi sekarang dengan adiku” jawabnya, sambil terus memegang tangan ayahnya. Belum sepat ketua bertanya, ketua dengar suara gesekan kaki dengan lantai semakin mendekat, ketua arahka pandanganku ke arahnya, “ Assalamu’alaikum” suaranya yang lembut dan halus, membuat jiwaku terpana dan terhenyak olehnya, mendengar suara itu hatiku bagai tanah kering yang terhujani, tapi aku tak tahu apa arti ucapanya tadi, aku bingung harus jawab apa.
“ Wa’alaikumsalam” jawab Dika pelan, aku hanya menganutnya, tapi serasa sangat sulit ku ucapkan.
“ itu adikku” sambil menunjuk kearah wanita yang baru masuk kamar.
“ Zahroh, kenalkan, ini teman sekolah kakak” sambil menunjuk ke arahku dan kulihat Dika mengedipkan matanya, entah apa maksudnya. Adiknya langsung berjabat tangan denganku dan saling berkenalan.
“Adik ini sekolah di mana?” tanyaku setelah agak lama berbincang-bincang.
“ Tidak sekolah kak, satu-satunya di keluarga kami yang sekolah hanya kak Dika” jawabnya polos, memmang ia masih berumur 13-an tahun.
“ Lantas adik belajar di mana?”
“ Di Surga Darul Fikr.”
“ Maksudnya?” Aku semakin tak Faham dengan pembicaraanya.
“ Darul Fikr itu nama sebuah Pesantren Putri di daerah Demak, dan kami yang sebagai penghuninya, dan juga sering orang-orang memberi julukan kepada kami Bidadari dunia, karena kami terhindar dari perbuatan jelek seperti bidadari-bidadari yang ada di surga yang telah di ceritakan sama guru-guru kami, terus guru kami juga bilang pesantren putri itu identik dengan syurga” paparnya masih sangat polos.
” terus sekolah kamu gimana Dik?” tanyaku pada Dika.
“ Mungkin putus, aku sudah tak kuat membiayai” jawabnya pelan dan tergetar.
“ Jangan Dik, kamu sudah kelas tiga”
“ Habis gimana lagi , uang yang aku tabung sudah habis tuk tambah biaya pengobatan ayahku” jawabnya semakin mengharu.
“ Mungkin tabunganku bisa kamu pakai” tawarku.
“Terima kasih” jawabnya singkat.
Setelah berbincang-bincang mengenai ini iti dan mengenai ayahnya akupun berpamitan pulang, dan ketua berikan amplop yang dengan isi seadanya.
“ Bertuhan” dalam benakku selalu terfikir itu, akupun juga mulai ingat pelajaran PKn, tentang Pancasila yang sila pertama, ternyata negara yang aku tempati berlandasan agama, hatiku semakin bergemuruh dan menggebu-gebu, selama ini mungkin aku tak teralu memperhatikan pelajaran-pelajaranku yang memuat ketuhanan, atau mungkin aku memang tak mau tahu dengan itu, aku semakin tak dapat menentukan fikiranku.
Waktu berjalan begitu cepat, hari demi hari berjalan dengan tertibnya, bulan-bulan juga ikut mengantri dari kejauhan. Manusia memang hanya berusaha dan berdo’a tapi tuhanlah yang berkehendak, Ayahnya Dika telah menghadap kepada tuhan, meski aku sudah berusaha membantu biaya perawatanya dengan uang tabunganku dan dengan sesekali minta pada bapakku dengan alasan pembayaran sekolah atau yang lain untuk membantu Dika.
UN akan dilaksanakan dua bulan yang akan datang, tapi batinku masih payah dengan berfikir ingin mempunyai tuhan, Setiap hari aku selalu minta uang ayahku dua kali lipat, kugunakan belanja-belanja dengan teman-temanku, dan lebihnya ku tabung, tabungaku kini mencapai jutaan.
Setiap hari aku berfoya-foya dengan kekayaan ayahku yang melimpah ruah, semua yang aku butuhkan terpenuhi, pergi ke taman hiburan, ke mol, atau yang lainya, semua itu ketua gunakan untuk menghilangkan kegundahanku akan tuhan.
Kulihat kalender di ruang tamu, ternyata ujian kurang setengah bulan lagi, ibu dan ayahku sedang duduk di sofa dengan santainya sambil nonton TV, ku beranikan untuk minta izin pada orang tuaku.
“ Yah, seandainya aku bertuhan, ayah dan ibu setuju nggak?” pertanyaanku meluncur bagai gerak reflek. Tak cuma ayahku saja, ibuku juga sangat kaget setelah mengetahui apa yang ku inginkan. Kulihat raut wajah ayahku yang mulai memerah, menandakan ketidak senangannya.
“ Apa kamu bilang! Bertuhan! Ingat ya, kalu kamu masih ingin kuanggap sebagai anakku, buang jauh-jauh itu fikiran, apa itu tuhan! “ ayahku menjawab dengan penuh kemarahan, matanya melotot tepat menatap ke mataku. Aku semakin takut.
“ iya yah, maaf” jawabku pelan dengan tubuh yang terus gemetaran.
Rasa ingin mempunyai tuhanku sempat memudar, tapi tak selang lama lagi rasa itu sudah kembali dan semakin kuat, malam itu seisi kamarku kuajak merenung, seakan mereka tahu apa yang kumaksud, dan seakan mereka juga setuju kalau aku mempunyai tuhan.
Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat sekolah, dengan harapan dapat bertemu dengann Dika, sesampai di sekolah kudapati Dika seorang diri di dalam kelas, kudekati Dika dengan perasan agak berat namun tetap kuberanikan untuk langsung bicara.
“ Dik, aku mau masuk agama kamu, caranya gimana?” kuluncurkan pertanyaanku dengan tiba-tiba.
“ Serius !” jawabnya kaget, diraut wajahnya tersirat ketidak percayaan.
“ Aku serius, aku juga mau jadi bidadari, seperti adikmu, tolong beri aku solusi.” Suaraku semakin melemah.
“ Kalau kamu memang serius, nanti setelah pulang sekolah ikut aku ke rumahnya ustad Jamal.” tawarnya mantap. Akupun hanya mengangguk.
Sekolah SMA itu sangat padat dengan kepulangan siswanya, “Iffa, jadinggak?” kudengar suara Dika yang semakin mendekat.
“ Iya, jadi.” Jawabku, akupun menyusul dari belakangnya.
“ Iffa, pulang nggak ? bareng yuk.” Ajak Ririn dan risa kepadaku, hanya senyuman yang ku lemparkan kembali. Aku tahu kalau mereka belum tahu tentang akan islamnya aku hari itu.
Tak lama aku dan Dika sudah tiba di rumahnya Ustad Jamal, Diki di situ sudah seperti anaknya sendiri, mau apa saja terserah. Setelah berbincang-bincang, dan aku mengutarakan maksudku, acarapun dimulai, Ustad Jamal membingbingku untuk membaca Syahadad dan katanya cara masuk agama islam hanya itu saja, dia membacakan dua kalimah syahadad dan aku di suruh mengikutinya.
Siang itu merupakan paling bersejarah bagi kehidupanku dan keluargaku yang atheis, “ Aku masuk Islam “ lirihku, seperti mimpi, ternyata sejak kecil yang ku pandangi dari rumahku, bangunan tua, berpagar, berpintu gerbang, bertuliskan Darul Fikr, dam yang sesekali keluar dari balik gerbang sosok yang unik bagiku, kini aku telah mendapatkan jawabannya, malahan kudapatkan jawabanya dari anak kecil, mereka yang menghuninya biasa menyebutnya surga di dunia,
Pesantren putri, itulah tujuanku selanjutnya jika aku nantinya harus angkat kaki dari rumah, Tabunganku akan cukup untuk hidupku sementara dan kugunakan untuk melunasi administrasi sekolahku, semua itu kuambil dari saran Dika, aku harus nyantri dan sudah kupilih aku akan nyantri di Darul Fikr bersama adiknya.
Darul Fikr, yang dulu pernah di ceritakan oleh adiknya Dika dan sekarang aku telah memilih tempat itu untuk ku tempati di kehidupanku yang baru, ternyata tempat itu ada di dekat rumahku, tepatnya ada di sebelah utara rumahku, gedung tua yang sejak kecil membuatku selalu bertanya-tanya, gedung apakah itu? Kini telah kudapatkan jawabannya.
Dari situ aku juga masih bisa melihat rumahku dan rasanya tak mungkin orang tuaku mencariku kesana.
Setelah proses sederhana itu selesai aku pulang dan kuberanikan aku bertanya pada orang tuaku untuk yang kedua kalinya, meski ayah dan ibuku mengusirku darirumah, aku akan siap.
Jam lima belas lebih sedikit aku sudah sampai di rumah, ayah dan ibuku sudah bersiap-asiap pergi, entah kemana.
“Mah, mau kemana? “ Tanyaku pada ibuku yang masih merapikan barang-barangnya kedalam tasnya.
“ Ini bapakmu dan ibu mau ke acara ulang tahun perusahaan temannya bapakmu, kamu di rumah saja ya..” ibuku menjawab penuh dengan kasih sayang.
“ Mah, pah, aku mau minta satu permintaan boleh nggak ? “Tanyaku pada mereka, dengan nada setengah bergetar aku mengutarakannya.
“ Boleh, mau apa? Uang ? “ kini ayahku yang menjawabnya, juga dengan nada yang lembut.
“ Nggak yah, nggak itu yang kumaksud, tapi aku ingin mempunyai tuhan seperti teman-temanku.” Pertanyaanku yang kemarin ku ulangi lagi malah dengan nada semakin yakin, persis seperti yang kuduga, orang tuaku langsung naik pitam.
“ Apa kamu bilang..!” ayahku marah sejadi-jadinya, “ Takkan ku izinkan ! “ ibuku menambahi, ibuku juga yang biasanya bersikap lemah lembut tapi kini sangat mengerikan, dari sorot matanya yang seakan menusuk mataku, membuatku gemetar.
“ Tapi aku sudah punya, mah.”
“ Apa !, mending aku tak punya anak, daripada aku harus mempunyai anak sepertimu!”
Ayah semakin marah, “ Pergi dari rumahku !” sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah luar rumah.
Aku langsung lari ke kamar dan menangis sejadi-jadinya, tapi tekadku memang sudah bulat, semua barang-barangku segera kukemas, dan juga tak lupa kartu ATM-ku yang akan ku buat melunasi sekolahku dan untuk bekal hidupku sementara.
Aku pergi selagi ayah dan ibu cekcok di dalam kamarnya, hanya satu tujuanku yaitu rumah Ustad Jamal, karena Dika masih disana, setelah itu aku akan tinggal di surga seperti yang telah di ceritakan adiknya Dika dulu, di sebelah utara rumahku, disana aku bisa selalu bersama dengan bidadari-bidadari dunia yang diantaranya adalah adiknya Dika. Pesantren Darul Fikr, surgaku di dunia ini yang sekaligus jadi tetanggaku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar